Mengenal Fitur PWA (Progressive Web Apps) dalam Pengembangan Web

PWA (Progressive Web Apps)


Hai sobat @ataeh, Kali ini @ataeh akan mengulas mengenai PWA (Progessive Web Apps). Kalau pembahasan Perbedaan AMP dan PWA, Mana Yang Lebih Bagus?, sudah pernah @ataeh bahas. Sekarang yang @ataeh fokus pada pembahasan Mengenal Fitur PWA (Progressive Web Apps) dalam Pengembangan Web sebagai bahan informasi bagi para websiter.

PWA (Progressive Web Apps), belakangan menjadi lebih trending topik yang banyak diperbincangkan di kalangan pengembang aplikasi dan web.

Pencetus istilah PWA pertama kali adalah desainer/freelancer Frances Berriman dan pengembang Google Chrome, Alex Russel.

Berriman pernah membuat cuitan dalam blognya, dia mengatakan bahwa dia tidak terlalu suka dengan konsep AMP (Accelarated Mobile Pages) buatan Google. Padahal, Tujuan Google memberikan opsi AMP bagi pengguna adalah untuk mempercepat loading halaman sebuah situsweb pada tampilan mobile.

Sedangkan Berriman menawarkan opsi PWA untuk mengatasi loading website yang lemot pada perangkat mobile. bahkan Dia memandang bahwa PWA (Progressive Web Apps) lebih potensial dari pada AMP (Accelarated Mobile Pages)

Dalam acara Chrome Dev Summit pada tahun 2015, Alex Russel pernah mempresentasikan konsep PWA. Presentasi demi peningkatan Chrome dilanjutkan oleh presentasi Jake Archibald pada Google I/O 2016 dengan materi Instant Loading: Building offline-first Progressive Web Apps.

Pada tahun 2017, Google I/O mulai mengangkat beberapa topik mengenai PWA, diantaranya Production Progressive Web Apps With JavaScript Frameworks, Progressive Web Apps: Great Experiences Everywhere, dan Creating UX that "Just Feels Right" with Progressive Web Apps.

Penggunaan istilah PWA untuk menggambarkan dan menjelaskan kemampuan peramban (browser) modern yang dapat mengelola service workers dan web app manifest. Dari kedua kemauan yang ditawarkan PWA tersebut membuat konsep PWA bisa diterima dan bisa diterapkan layaknya sebuah native apps. Lebih dari itu, sebuah PWA juga mendukung akses ke perangkat keras sebuah smartphone.

PWA adalah sebuah pengembangan web yang menggunakan kombinasi alat (tools) dan teknologi yang sudah tersedia untuk membangun pengalaman pengguna yang ideal dan tertarget. Jadi PWA bukan API juga bukan jenis teknologi baru.

pengembangan PWA ini dilakukan dengan cara memanfaatkan service workers, API dan arsitektur shell aplikasi untuk pengalaman akses offline yang lebih berarti, sehingga dapat menghasilkan loading yang super cepat, dan mengelola keterikatan pengguna setelah kunjungan pertama.

Bisa dikatakan bahwa PWA adalah aplikasi web yang berupa situsweb pada umumnya, tetapi bisa ditampilkan seperti layaknya sebuah aplikasi mobile.

Namun keuntungan yang diberikan PWA adalah pengguna tidak perlu mengunduh dan menginstal aplikasi tersebut, tetapi cukup melempar icon situsweb ke tampilan Home Screen. Ketika icon tersebut diklik, maka akan membuka sebuah tampilan mirip web, tetapi tanpa kolom URL.

Keuntungan yang akan didapatkan oleh pengguna smartphone tidak terkurasnya memori karena harus menyimpan file-file aplikasi, disamping kecepatan loading tentunya.

Memang kecepatan mobile web memang selalu menjadi perhatian serius selama bertahun-tahun. Sehingga banyak konsep lain yang ditawarkan, seperti tampilan web adaptif dan responsif, tapi semua itu tidak cukup memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik.

Antara Google dan Facebook, keduanya saling berlomba dalam memberikan pelayanan pada pengguna dengan fitur kenyamanan akses melalui konsep instant loading. Google mengembangkan AMP, sedangkan Facebook Instant Article. Tujuan dari keduanya adalah sama, yaitu merepresentasikan sebuah halaman web bisa diakses dengan lebih cepat dan instan pada perangkat mobile.

Fitur yang menarik yang ada pada PWA adalah dukungan untuk push notification. Fitur adalah fitur notifikasi, seperti halnya aplikasi mobile dalam berbagai bentuk, misal notifikasi chat yang baru masuk pada aplikasi messenger, notifikasi email yang baru masuk, atau notifikasi yang dimunculkan oleh aplikasi pembaca berita setiap kali ada berita baru.

Pada bulan April 2018 PWA diujicobakan pada browser Google Chrome, dan hasilnya pun memuaskan. Akhirnya PWA juga diterapkan ke banyak browser, termasuk Google Chrome, Microsoft Edge, Firefox, dan Safari, dan beberapa web yang lain.

Sementara itu, beberapa CMS seperti WordPress sudah lebih dulu memberi dukungan plugin untuk PWA, sebut saja Progressive Web Apps dan Super Progressive Web Apps.

Apakah anda tertarik juga?

Referensi : 
https://en.wikipedia.org/wiki/Progressive_Web_Apps
https://www.quora.com/Are-progressive-web-apps-going-to-kill-native-apps?utm_medium=organic&utm_source=google_rich_qa&utm_campaign=google_rich_qa
https://developers.google.com/web/ilt/pwa/
https://adityarizki.net/mengenal-progressive-web-apps/amp/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Backlink : Beberapa Alasan Mengenai Pentingnya Backlink

Membuat Tag Video YouTube Secara Otomatis

Perbedaan AMP dan PWA, Mana Yang Lebih Bagus?